Friends

Jumat, 18 Januari 2013

Resume Risk dan Return Saham Perusahaan Industri Barang Konsumsi di BEI (Jurnal Penelitian Anwar Ramli)



The result of research indicate that stocks of Consumption Goods Industry Corporation have β < 1, it means that stocks characteristic of defensive.
Artinya Hasil penelitian Anwar Ramli menunjukan saham yang tergolong Industri Barang Konsumsi (Consumer Goods Industry) umumnya bergerak lebih lambat dari pasar. Jika pasar naik maka saham tersebut juga ikut naik namun lebih lambat dari pergerakan pasar, begitu pula sebaliknya.
Untuk meneliti risk dan return saham di BEI, Ramli menggunakan sampel 15 perusahaan tergolong dalam bidang Industri barang konsumsi di BEI, bidang industri yang diambil tidak dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak mentah dunia karena barang yang dikonsumsi merupakan barang kebutuhan sehari-hari oleh masyarakat.
Analisis yang digunakan adalah Capital Asset Pricing Model (CAPM) atau Model Penentuan Harga Aset Modal.
CAPM adalah salah satu cara memilih saham yang akan dibeli atau dijual dengan melihat saham tersebut apakah overvalued atau undervalued. Dikatakan overvalued apabila suatu saham nilai return actualnya lebih kecil dari nilai expected return  sedangkan undervalued apabila actual return lebih besar dari pada expected return.
Rumus CAPM:
E(Ri) = Rf + βi (Rm – Rf)
Dimana:
E(Ri) : Return yang diharapkan sebagai minimum return
Rf : Tingkat return bebas resiko rata-rata
Rm : Return pasar rata-rata
Βi : Beta saham
Untuk mengetahui CAPM tersebut hal yang harus dilakukan adalah mencari:
  1. Return actual atau return individual saham (Ri)
Ri = Pt – Pt-1 + D1
Pt-1
            Dimana:
            Pt = Harga saham waktu t,  Pt-1 = Harga saham untuk waktu sebelumnya,   D1 = Deviden
  1. Market Return (Rm)
Rm = IHSGt – IHSGt-1
IHSGt-1
IHSGt = Indeks Harga Saham Gabungan pada akhir periode t
IHSGt-1 = Indeks Harga Saham Gabungan pada akhir periode sebelumnya
Catatan: IHSG yang dipakai adalah IHSG sedang yang dirata-rata dari saham-saham sampel bukan semua saham
  1. Beta (βi)
βi =       Kovarians
Market Varians
Menentukan Kovarians:


 


Menentukan Varians:
Varians =
    n - 1
  1. Risk Free (Rf)
Objek investasi tanpa resiko ini deposito bank dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI), penelitian Ramli menggunakan SBI, pada saat itu tingkat suku bunga SBI tahun 2008 adalah 8% diambil rata-rata perbulan 0,67%
Setelah mengestimasi return saham dengan model CAPM selanjutnya mempertimbangkan risiko spesifik setiap jenis saham. Yaitu:
  1. Menentukan alpha (α)
α = Ri – E(Ri)
  1. Menentukan Appraisal ratio
Appraisal ratio = αi / σ2 (ei)

Pembahasan
Setelah dilihat berdasarkan perhitungan beta (β) yang tertinggi adalah 0,933 saham MERC dan terendah -0,0667 saham (MRAT) ini menunjukan kecenderungan saham bergerak searah dengan turun naiknya market return (Rm). (Ri) tertinggi adalah 7,17% pada saham KAEF sedangkan (Ri) terendah adalah -1,80% pada saham DLTA, ini menunjukan harga saham DLTA mengalami penurunan harga secara drastis dan terus menerus selama tahun 2008 dan pergerakan harga  ini melawan pergerakan IHSG (Rm). Berdasarkan tabel dibawah ini dapat diketahui:
  1. Ada 5 saham yang mempunyai average return melebihi diharapkan yaitu saham INDF, RMBA, HMSP, KAEF, TCID sebagai saham undervalued stock (berada digaris SML)
  2. Tidak ada saham yang mencapai titik ekuilibrium (berada pada SML) dimana E(Ri) = Ri
  3. Untuk memilih sejumlah saham yang layak dibeli digunakan metode Appraisal ratio dan hasilnya ada 5 saham yaitu INDF, RMBA, HMSP, KAEF, TCID, ada 7 saham yang tidak layak beli atau dijual saja sahamnya yaitu MERK, SQBI, MYOR, KLBF, TSPC, MRAT, GGRM, DLTA (overvalued)
  4. Meskipun begitu untuk saham MERK, SQBI, MYOR, KLBF untuk Ri karena masih diatas garis tingkat risk free rate (Rf).
  5. Urutan saham yang dibeli adalah (1) TCID, (2) INDF, (3) RMBA, (4) HMSP, (5) KAEF

KESIMPULAN
Pada tingkat resiko β < 1 artinya, Hasil penelitian Anwar Ramli menunjukan saham yang tergolong Industri Barang Konsumsi (Consumer Goods Industry) umumnya bergerak lebih lambat dari pasar. Jika pasar naik maka saham tersebut juga ikut naik namun lebih lambat dari pergerakan pasar, begitu pula sebaliknya. E(Ri) dari setiap jenis saham mengikuti besarnya resiko, semakin besar beta semakin besar pula tingkat expected retun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar